Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur merupakan proyek megastructure yang tidak hanya mengubah peta administrasi Indonesia, tetapi juga diproyeksikan membawa transformasi struktural pada perekonomian regional. Untuk memahami potensi dan risikonya, penting untuk melakukan Analisis Dampak Ekonomi jangka panjang, khususnya terhadap Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Proyek ini diharapkan dapat mengubah Kaltim, yang selama ini sangat bergantung pada sektor komoditas batu bara dan migas, menjadi pusat pertumbuhan baru yang didorong oleh sektor jasa, teknologi, dan industri hijau. Pemerintah menargetkan IKN Nusantara akan rampung secara bertahap, dengan fase inti selesai pada tahun 2029.
Salah satu pilar utama dari Analisis Dampak Ekonomi IKN adalah terciptanya multiplier effect (efek berganda) yang signifikan. Selama fase konstruksi, yang puncaknya diperkirakan terjadi pada 2026-2027, IKN akan menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Menurut data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) per Juni 2025, proyek ini telah membuka lebih dari 75.000 lapangan kerja langsung di sektor konstruksi. Peningkatan permintaan terhadap bahan baku lokal, jasa katering, dan akomodasi di sekitar wilayah penyangga seperti Balikpapan dan Samarinda akan mendongkrak pendapatan daerah secara substansial. Peningkatan PDB Kaltim diproyeksikan dapat melonjak hingga 7% per tahun selama fase konstruksi, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan historis provinsi tersebut.
Namun, keberhasilan IKN dalam jangka panjang akan sangat bergantung pada transisi yang berhasil dari pembangunan fisik ke pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Analisis Dampak Ekonomi pasca-2035 menunjukkan bahwa IKN harus mampu menciptakan ekosistem bisnis yang menarik investasi non-APBN. Pemerintah menargetkan perpindahan sekitar 120.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) pada fase awal, yang diharapkan menciptakan pasar konsumen baru yang kuat. Lebih dari itu, IKN dirancang sebagai kota cerdas (smart city) dan forest city, menarik perusahaan teknologi, lembaga penelitian, dan industri energi terbarukan.
Tantangan terbesar yang muncul dari Analisis Dampak Ekonomi ini adalah mencegah kesenjangan pembangunan dan inflasi yang tidak terkendali. Lonjakan harga properti dan kebutuhan pokok di Kaltim sudah mulai terlihat sejak pengumuman lokasi IKN pada Agustus 2019. Pemerintah daerah dan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kaltim telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat dan pelaku usaha pada Rabu, 10 September 2025, agar berhati-hati terhadap spekulasi harga tanah. Selain itu, diperlukan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal secara masif. Jika mayoritas pekerjaan di sektor teknologi tinggi dan jasa profesional diisi oleh pendatang dari luar Kaltim, tujuan pemerataan pembangunan melalui IKN tidak akan tercapai. Oleh karena itu, pelatihan keterampilan yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) di Penajam Paser Utara menjadi krusial untuk memastikan masyarakat lokal menjadi subjek, bukan hanya objek, pembangunan IKN Nusantara.
