Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Sabtu, 12 April 2025 – Sebuah pendekatan humanis diterapkan oleh aparat kepolisian dari Polsek Sawah Besar, Polres Metro Jakarta Pusat, dalam menangani kasus tawuran di Jakpus yang melibatkan sejumlah remaja. Alih-alih langsung memberikan hukuman pidana, para pelaku tawuran di Jakpus tersebut dihukum polisi dengan cara yang menyentuh hati, yaitu diminta untuk melakukan sujud sungkem dan meminta maaf kepada ibu masing-masing di hadapan petugas dan orang tua lainnya. Langkah ini diharapkan dapat memberikan efek jera yang lebih mendalam dan menumbuhkan kesadaran akan kesalahan yang telah diperbuat.
Insiden tawuran di Jakpus yang melibatkan dua kelompok remaja terjadi di kawasan Mangga Besar pada Jumat malam, 11 April 2025, sekitar pukul 22.00 WIB. Berkat kesigapan petugas kepolisian yang segera tiba di lokasi, aksi tawuran di Jakpus berhasil diredam dan sejumlah remaja yang terlibat berhasil diamankan. Setelah dilakukan pendataan dan pemeriksaan, pihak kepolisian mengambil langkah persuasif dengan memanggil orang tua para pelaku. Dalam mediasi yang dilakukan di Mapolsek Sawah Besar pada Sabtu siang, para remaja pelaku tawuran di Jakpus tersebut dihukum polisi dengan cara yang tidak biasa namun penuh makna.
Kapolsek Sawah Besar, Kompol Anton Sugiarto, S.H., M.H., menjelaskan bahwa hukuman sujud dan meminta maaf kepada ibu dipilih sebagai upaya untuk menyentuh sisi emosional para remaja dan menanamkan rasa penyesalan yang mendalam. “Kami ingin memberikan efek jera yang tidak hanya bersifat fisik atau hukuman kurungan, tetapi juga menyentuh hati dan pikiran mereka. Ibu adalah sosok yang paling berjasa dalam kehidupan kita, dan meminta maaf kepada beliau diharapkan dapat membuat mereka merenungkan perbuatan salah yang telah dilakukan,” ujarnya saat memberikan keterangan pers. Langkah dihukum polisi dengan cara ini mendapat apresiasi dari para orang tua yang hadir dan berharap kejadian serupa tidak terulang kembali.
Selain hukuman sujud dan meminta maaf, para remaja tersebut juga diberikan pembinaan dan pengarahan mengenai bahaya tawuran serta pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Pihak kepolisian juga melibatkan tokoh masyarakat dan pihak sekolah dalam upaya pembinaan lebih lanjut.
