Bagi generasi 90-an dan awal 2000-an, upaya Mengenang Popeye tidak lengkap tanpa menyebut seri spin-off-nya, Popeye and Son. Serial ini menawarkan narasi baru, menampilkan Popeye, Olive Oyl, dan anak mereka, Popeye Junior. Berbeda dengan seri klasik yang berfokus pada konflik abadi, versi ini mengeksplorasi tantangan menjadi orang tua dan dinamika keluarga yang lebih modern.
Serial Popeye and Son sempat tayang di ANTV pada era 2000-an, menarik perhatian anak-anak Indonesia yang sudah akrab dengan karakter utamanya. Mengenang Popeye versi ini berarti mengenang bagaimana karakternya berevolusi. Dalam versi ini, Junior awalnya menolak bayam, menciptakan konflik generasi yang relevan dengan banyak rumah tangga Indonesia saat itu.
Respon dari anak-anak Indonesia terhadap versi baru ini cukup hangat, meskipun tidak sebesar dampak kultural seri klasik. Anak-anak terhibur dengan petualangan ringan dan konflik lucu antara ayah dan anak. Daya tarik utamanya terletak pada humor fisik yang khas dan keberadaan karakter ikonik seperti Brutus, yang kini juga memiliki seorang putra, Tank.
Salah satu perbedaan mendasar dan yang paling diingat adalah peran bayam. Jika Popeye Klasik selalu mendapatkan kekuatan instan dari bayam, Mengenang Popeye Junior menunjukkan bahwa ia hanya mendapatkan kekuatan sesekali, dan harus bekerja keras untuk mengatasinya. Perubahan ini mencerminkan tren kartun era 80-an dan 90-an yang lebih menekankan pada usaha dan pertumbuhan pribadi.
Penayangan Popeye and Son di ANTV juga berperan penting dalam transisi konten anak di televisi nasional. Serial ini menjadi jembatan antara kartun klasik yang disukai orang tua dan kebutuhan tontonan baru yang lebih kontemporer bagi anak-anak di Indonesia. Kehadirannya melengkapi deretan program animasi pagi atau sore di stasiun TV swasta tersebut.
Secara tematik, serial ini mencoba menawarkan pesan yang lebih dalam tentang legacy dan identitas. Junior bergumul dengan bayangan ayahnya yang legendaris, sebuah tema yang resonan dengan tekanan ekspektasi dalam budaya keluarga Indonesia. Mengenang Popeye and Son adalah mengakui upaya serial ini untuk memberikan karakter baru yang relevan bagi penonton muda.
Meskipun serial ini hanya berjalan selama satu musim dengan 13 episode (1987), penayangannya kembali di ANTV beberapa tahun kemudian menunjukkan permintaan pasar. Itu membuktikan bahwa meskipun versi barunya berbeda, daya tarik dasar dari karakter Popeye—seorang pahlawan yang melindungi orang yang dicintainya—tetap kuat di hati penonton.
Kini, ketika kita Mengenang Popeye and Son, kita melihatnya sebagai bagian dari evolusi media anak Indonesia. Ini adalah bukti bahwa karakter klasik dapat dihidupkan kembali dengan sentuhan modern untuk generasi baru, sambil tetap menjaga nilai-nilai inti yang membuatnya dicintai secara global: keberanian, cinta, dan kekuatan dari makanan sehat.
