Keraton Yogyakarta memiliki berbagai koleksi pusaka yang memiliki nilai sejarah tinggi, salah satu yang paling menarik perhatian publik adalah Gamelan Kyai Guntur Madu. Perangkat musik ini bukan sembarang instrumen musik yang bisa dimainkan kapan saja untuk hiburan. Sebagai pusaka milik keraton, gamelan ini memiliki status sakral dan hanya dikeluarkan serta ditabuh pada momen-momen tertentu yang sangat khusus, yakni dalam rangkaian upacara Sekaten untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Bunyi yang dihasilkan dari bilah-bilah logamnya dipercaya membawa suasana mistis sekaligus agung yang menyentuh sanubari masyarakat.
Sejarah keberadaan Gamelan Kyai Guntur Madu berkaitan erat dengan strategi dakwah Islam pada masa awal Kesultanan Mataram. Suara gamelan yang merdu dan menggelegar digunakan untuk menarik perhatian masyarakat luas agar berkumpul di halaman masjid. Setelah masyarakat berkumpul, barulah para ulama memberikan ceramah agama dan pesan-pesan kebajikan. Nama “Guntur Madu” sendiri mengandung filosofi yang dalam, di mana “Guntur” melambangkan suara yang keras dan berwibawa, sementara “Madu” melambangkan rasa manis atau kebaikan dari ajaran yang disampaikan melalui nada-nada tersebut.
Dalam segi fisik, Gamelan Kyai Guntur Madu memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan perangkat gamelan pada umumnya. Hal ini bertujuan agar jangkauan suaranya lebih luas dan mampu menembus keramaian pasar malam Sekaten yang biasanya sangat padat. Teknik permainannya pun memiliki pakem tersendiri, dengan ritme yang lebih lambat namun bertenaga. Para pemain musik atau wiyaga yang bertugas menabuh gamelan ini harus dalam keadaan bersih secara lahir dan batin, seringkali didahului dengan ritual puasa atau doa bersama agar suara yang dihasilkan tetap memiliki kekuatan spiritual yang murni.
Aspek lain yang membuat Gamelan Kyai Guntur Madu begitu dihormati adalah prosesi “Jamasan” atau pembersihan yang dilakukan secara rutin. Pembersihan ini bukan sekadar urusan teknis menghilangkan debu, melainkan ritual merawat benda pusaka agar energinya tetap terjaga. Masyarakat seringkali rela berdesakan di halaman Masjid Gede Kauman hanya untuk mendengarkan alunan gamelan ini, karena dipercaya bahwa dengan mendengarkannya, seseorang akan mendapatkan ketenangan batin dan berkah. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya musik tradisional berperan sebagai pengikat budaya dan sarana dakwah yang efektif melampaui sekat-sekat waktu.
