Explore Dunia saat ini sedang berada di titik balik transisi energi besar-besaran, di manan Green Hydrogen muncul sebagai pilar utama dalam upaya global mencapai emisi nol bersih atau Net Zero Emission (NZE). Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia tidak ingin ketinggalan dalam perlombaan teknologi bersih ini. Melalui perhelatan Green Hydrogen Exchange Summit (GHES) 2026 yang berlangsung pada tanggal 10 hingga 12 Februari 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), pemerintah bersama para pemangku kepentingan industri menegaskan ambisinya untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi energi hijau di kawasan Asia Tenggara. Acara ini dihadiri oleh jajaran petinggi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), para ahli teknologi lingkungan, hingga perwakilan dari sektor kepolisian untuk memastikan prosedur keamanan objek vital nasional di sektor energi baru terbarukan berjalan dengan selaras.
Secara fundamental, hidrogen hijau adalah gas hidrogen yang dihasilkan melalui proses elektrolisis air, yaitu pemisahan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan arus listrik. Perbedaan mendasar yang menjadikannya bersifat ramah lingkungan adalah sumber listrik yang digunakan harus berasal dari energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, atau panas bumi. Dengan proses ini, produksi Green Hydrogen sama sekali tidak melepaskan emisi karbon ke atmosfer, berbeda dengan hidrogen konvensional yang masih bergantung pada gas alam atau batu bara. Di Indonesia, potensi ini sangat besar mengingat cadangan panas bumi kita adalah salah satu yang terbesar di dunia, ditambah dengan paparan sinar matahari yang stabil sepanjang tahun di seluruh wilayah Nusantara.
Pemerintah Indonesia melalui visi strategisnya di GHES 2026 telah memetakan beberapa wilayah kunci yang akan menjadi pusat pengembangan pilot project. Kawasan industri di Kalimantan Utara dan Sumatera saat ini sedang dipersiapkan untuk menjadi basis manufaktur di mana teknologi elektroliser skala besar akan diintegrasikan. Penggunaan Green Hydrogen diharapkan tidak hanya terbatas pada sektor energi saja, tetapi juga merambah ke sektor transportasi berat dan industri baja yang selama ini sulit untuk didekarbonisasi. Implementasi teknologi ini diperkirakan dapat mengurangi ketergantungan nasional pada impor bahan bakar fosil sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di bidang teknologi tinggi bagi generasi muda Indonesia.
